UNDIP(Universitas Diperbatakkan)
Selamat datang kembali, terima kasih telah mampir sebentar di blog ini.
Pertama, salam bagi kita semua. Namaku David Siagian, statusku sekarang adalah SINGLE dan mahasiswa. Jadi, bagi kalian yang merasa single, atau yang taken tapi merasa pacar kalian tidak mirip seperti aku, silakan bisa follow instagramku @davidsiagiands.
Namun di sini aku tidak akan membahas status singleku ataupun pacar kalian, melainkan akan membahas mengenai status mahasiswaku. Baiklah, tanpa bertele-tele dan berbasa-basi lagi, dan tanpa membuang-buang waktu dan kata-kata lagi, karena waktu dan kata-kata adalah dua hal yang tak bisa di tarik kembali, untuk itu bijaklah dalam menggunakan waktu dan bijaklah dalam mengucapkan kata-kata. Mari, langsung saja kita mulai.
Oke, selamat pagi, siang, sore, dan malam, nama aku David Siagian, aku kuliah di Universitas Diponegoro (biasa disebut Undip) jurusan S1 Teknik Elektro angkatan 2016. Terima kasih.
Aku masuk ke sini melalui jalur ujian mandiri gelombang 1. Asal kalian tahu saja, dulu ketika aku dengar saat seorang mahasiswa masuk melalui jalur mandiri, maka yang pertama ada di otakku adalah dia "menyusahkan" orangtuanya. Dan yang terjadi adalah lidahku menusuk diriku sendiri. Lalu mengapa aku berpikir seperti itu? Itu karena biaya sumbangannya mahal. Sangat. Banget. Bayangkan aja biaya yang segitu banyaknya setara dengan nasi padang sebanyak seribu lima ratus bungkus. Makan satu bungkus aja katanya serasa udah surga dunia. Mungkin kalo seribu lima ratus bungkus serasa udah surganya surga (?). Untuk biaya sumbangan, bisa dicari sendiri.
Pertama kali yang kurasakan ketika masuk Undip adalah campur aduk, antara senang, bahagia, bangga, lega, dan "menyusahkan" orangtua bercampur aduk menjadi satu.
Saat pertama kali lihat pengumuman seleksi, dan aku dinyatakan lolos, satu rumah pun teriak-teriak kegirangan. Bapak Mamak menangis ketika tahu bahwa anaknya yang hebat ini bisa masuk di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka menangis sampai dapur pun ikut tergenang. Belakangan aku sadar ternyata mama lupa mematikan keran air cuci piring.
Baiklah, untuk kelanjutan cerita di atas kita potong dulu. Kita beranjak ke bagian ini.
Pertama kali aku masuk Undip, ternyata banyak banget orang batak. Bah... tak kukira bakal ada banyak orang batak di sini. Apalagi waktu kelas agama, waktu ditanya siapa orang batak, hampir angkat tangan semua, sampai-sampai tak bisa aku lihat yang tak angkat tangan. Jadi bagi kalian, khususnya orang batak dan/atau sedang mencari jodoh orang batak, maka di sinilah tempat yang cocok bagi kalian. Tapi kalo kalian hanya fokus untuk mencari jodoh dan menomorduakan perkuliahan, maka Undip tak mau menerima kalian sebagai almamater mereka(wetesehhh).
Itulah sebabnya mengapa aku memplesetkan akronim dari Undip sebagai Universitas Diperbatakkan.
Jadi sebenarnya inti dari blog ini hanya ingin memberi tahu bahwa di Undip itu banyak sekali orang bataknya. Bahkan bisa dibilang yang paling banyak diantara suku lain. Namun di Undip tidak mengenal perbedaan suku, Undip hanya mengenal keberagaman suku bangsa. Jadi bagi kalian yang mau mencari kampus yang berkualitas bagus, Undip juga merupakan salah satu kampus yang sangat baik untuk dijadikan pilihan(sekalian promosi, manatau rektor mampir ke blog ini). Coba deh cari aja di berbagai sumber, pasti Undip selalu berada di seratus besar kampus terbaik nasional.
Demikianlah sedikit tulisan saya, mohon maaf bilang ada beberapa ketypoan dan juga apabila kurang bermanfaat. Atas kepedulian kalian mampir ke blog ini, aku mengucapkan terima kasih.
Salam hangat dari aku.
Komentar
Posting Komentar